Senin, 23 Agustus 2021

Pemberontakan Geger Cilegon 1888 di Mulai

Pemberontakan di Mulai

Kita telah melihat bahwa dekat sebelum pemberontakan meletus di Cilegon, Haji Wasid mengadakan kontak yang erat dengan Haji Tubagus Ismail dan pemimpin-pemimpin pemberontak terkemuka lainnya. Mereka pada akhirnya memutuskan bahwa saat untuk bertindak telah tiba, dan bahwa pemberontakan harus dimulai di Cilegon pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888, disusul dengan serangan terhadap Serang. Setelah mengadakan rembukan terakhir dengan Haji Tubagus Ismail dan Haji Iskak di Saneja pada malam hari Minggu menjelang dimulainya pemberontakan itu, Haji Wasid segera berangkat ke arah utara untuk memimpin persiapan- persiapan terakhir di distrik Bojonegoro.


Adegan pembuka tragedi berdarah yang berlangsung selama bulan Juli itu telah direncanakan di desa Saneja tersebut yang berbatasan dengan Cilegon. Sebagai ibukota afdeiing Anyer, Cilegon merupakan tempat tinggal pejabat-pejabat pamongpraja, Eropa dan pribumi, yakni asisten residen, kontrolir muda, patih, wedana, jaksa, asisten wedana, ajun kolektor, kepala penjualan garam dan pejabat- pejabat lainnya dari tingkat bawah birokrasi kolonial. [1]


Serangan Pertama

Ke desa Saneja itulah Haji Tubagus Ismail memimpin pasukannya pada malam hari Minggu itu, tanggal 8 Juli. la memimpin sejumlah besar partisan, yang terutama berasal dari Arjawinangun, Gulacir - desa kelahiran Haji Tubagus Ismail - dan Cibeber. [2] Diperkuat dengan bala-bantuan dari Saneja dan desa-desa sekitarnya, kaum pemberontak bergerak menuju daerah tempat tinggal pejabat-pejabat di Cilegon. Lalu terjadilah peristiwa pertama yang tercatat dalam pemberontakan itu. Rumah Dumas, seorang juru tulis di kantor asisten residen, merupakan sasaran serangan yang pertama. Tidak diketahui dengan pasti, apakah serangan terhadap Dumas itu dilakukan sesuai dengan rencana sebagai permulaan pemberontakan, ataukah merupakan tindakan yang didorong oleh suasana saat itu. Yang jelas saat itu merupakan kesempatan yang paling baik untuk menunjukkan kebencian rakyat dalam satu tindakan bersama. Hal itu akan menjadi lebih jelas jika diingat bahwa Dumas juga bekerja sebagai juru tulis pada pengadilan distrik, satu jabatan yang tidak disenangi dan dibenci di kalangan rakyat. Suatu kebetulan di dalam peristiwa tragis ini adalah bahwa rumah Dumas merupakan rumah pertama yang dilewati kaum pemberontak ketika mereka bergerak dari Saneja menuju Cilegon. Kaum pemberontak tiba di rumah Dumas sekitar pukul 2 dinihari Senin, tanggal 9 Juli  [3] mereka membangunkan Dumas sekeluarga dan minta agar ia membuka pintu. Karena ingin mengetahui apa yang terjadi, Dumas membuka pintu; empat orang menyerbu ke dalam sambil berteriak, "Sabil Allah", dan menyerang Dumas dengan kelewang. Di dalam kekacauan yang timbul dan di dalam kegelapan, Dumas berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di rumah tetangganya, jaksa. Sementara itu, istrinya dan dua anaknya yang paling tua berusaha menyelamatkan diri ke rumah ajun kolektor, Raden Purwadiningrat, dengan menyelinap keluar melalui pintu belakang. Oleh karena rumah mereka sudah dikepung, mereka tidak dapat lolos tanpa diketahui. Istri Dumas diserang dan mendapat luka pada bahu kanannya, akan tetapi karena ia dikira babu, ia tidak diapa-apakan lagi. Sementara itu, babu yang sebenarnya, Minah, yang menggendang anak Dumas yang paling kecil, dikira istri Dumas. la diperintahkan untuk menyerahkan anak itu; ia tidak saja menolak akan tetapi malahan berusaha sebisa-bisanya untuk melindungi anak itu dengan badannya sendiri terhadap bacokan-bacokan penyerang-penyerangnya. Namun demikian, anak itu tak urung mendapat luka yang sangat parah, sementara Minah sendiri kena bacokan di beberapa bagian badannya. [4] Sementara itu, kaum pemberontak mengobrak-abrik rumah tersebut dan menghancurkan perabotannya. [5]


Jaksa dan Ajun Kolektor, yang terbangun oleh teriakan minta tolong dari istri Dumas, lari ke luar rumah sambil membawa pedang. Jaksa melihat Dumas, membawanya ke rumahnya, dan menyuruhnya berbaring. Istri Dumas dan anak-anaknya berlindung di rumah Ajun Kolektor. Sementara itu, kaum pemberontak masih terus mencari Dumas; sambil berteriak-teriak mereka menuju rumah Jaksa setelah diberi tahu bahwa ia ada di sana. Tidak lama kemudian rumah Jaksa pun dikepung oleh kaum pemberontak, yang berteriak-teriak memerintahkannya agar menyerahkan Dumas. Oleh karena tidak mendapat jawaban, mereka mulai tidak sabar; mereka memukul-mukul pintu dan menusuk-nusuk dinding bambu dengan tombak. Kelihatannya seolah-olah mereka akan masuk secara paksa, akan tetapi teriakan-teriakan dan seruan-seruan berangsur-angsur menghilang-ternyata gerombolan sedang meninggalkan tempat itu.


Sementara peristiwa itu berlangsung di bagian tenggara Cilegon, sepasukan pemberontak diperintahkan untuk menuju Kepatihan. Sejak semula sudah jelas, bahwa Patih termasuk di antara orang-orang yang hendak dibunuh oleh kaum pemberontak. Bukti nyata mengenai ketidak-populeran Patih di kalangan rakyat pada umumnya dan para kiyai pada khususnya diberikan oleh dua pernyataan anonim mengenai sikapnya yang sinis terhadap soal-soal agama dan mengenai kebijaksanaannya yang keras dalam memberlakukan peraturan-peraturan pemerintah. [6] Setibanya di Kepatihan, kaum pemberontak diberi tahu bahwa Patih tidak ada di rumah karena sedang ke Serang. Kaum pemberontak lalu meninggalkan tempat itu. Di kemudian hari didesas-desuskan bahwa kenyataan Patih tidak berada di kota itu pada saat pemberontakan dimulai nampaknya memberikan petunjuk bahwa ia sudah tahu rakyat membencinya dan bahwa ia menyadari benar-benar ketidaksenangan mereka yang semakin besar. [7]


Kabar tentang serangan itu disampaikan kepada Wedana oleh Johar, seorang opas Jaksa, melalui Nuriman, opas wedana itu sendiri. Seperti dikatakan oleh Johar, ada rampok yang menyerang rumah Dumas. Karena tidak ada tanggapan samasekali dari Wedana, Nuriman pergi ke penjara untuk minta bantuan penjaga penjara. Dengan disertai oleh dua orang penjaga penjara, ia menuju rumah Dumas; mereka berhadapan dengan gerombolan pemberontak yang mengancam mereka dengan tombak. Ketiga orang merasa bahwa perlawanan akan sia-sia saja dan mereka lari untuk menyelamatkan diri. Dalam keadaan putus asa Nuriman lari menuju rumah jaro Jombang Wetan. Jaro tidak ada di rumah, maka Nuriman cepat-cepat menuju gardu di Pasar Jombang untuk memukul tong-tong sebagai tanda bahaya, namun sia-sia karena tak seorang pun muncul.


Ajun Kolektor membawa istri dan anak- anak Dumas ke Kepatihan, begitu kaum pemberontak meninggalkan tempat mereka sekitar pukul 3 dinihari. [8] Atas permintaan istri Dumas, dikerahkanlah orang-orang untuk mencari anak yang paling kecil; anak itu dan Babu Minah, ditemukan di tengah sawah, dalam keadaan masih hidup akan tetapi dengan luka-luka yang parah. Anak diserahkan kepada ibunya, dan Minah dibawa ke rumahnya.  [9]


Menjelang fajar, hari Senin tanggal 9 Juli, Wedana memrakarsai tindakan dan berunding dengan Ajun Kolektor. Mereka memutuskan untuk mengutus kurir ke Anyer dan Serang; kurir yang pertama diperintahkan menghadap Residen untuk melaporkan apa yang telah terjadi malam itu, sedangkan kurir yang kedua diperintahkan mencari dokter. Akan tetapi tidak lama kemudian, kurir yang kedua kembali dan mengatakan kepada Wedana bahwa ia terpaksa kembali karena kuda gerobaknya mogok. Kira-kira pada waktu yang sama, kurir ketiga, yang diutus oleh istri Patih, sudah dalam perjalanan menuju Serang untuk menyampaikan kabar tentang apa yang telah terjadi pada malam hari itu di Cilegon kepada Patih. Sementara itu, Wedana dan Ajun Kolektor tiba di rumah Jaksa untuk mencari Dumas; ketika mendengar suara mereka, Jaksa dan istrinya keluar dari persembunyian mereka. Setelah menceritakan musibah yang telah menimpa dirinya, Dumas menyarankan agar Kamid, seorang pelayannya yang telah dipecat, ditangkap, oleh karena ia mencurigainya telah ikut dalam serangan itu. [10]


Kemudian, sementara Wedana dari anak buahnya pergi ke Kampung Baru untuk menangkap Kamid, Jaksa dan seorang opas, Abusamad, pergi ke rumah Asisten Residen untuk mencari istri Gubbels yang bantuannya diperlukan dengan segera untuk membalut luka-luka Dumas. Ajun Kolektor pulang ke rumahnya untuk salat subuh. Menjelang matahari terbit, istri Gubbels sudah berada di rumah Jaksa, membalut luka-luka Dumas. Pada waktu yang bersamaan, Kamid ditangkap dan dibawa ke rumah Jaksa, di mana ia diminta keterangannya mengenai serangan terhadap rumah Dumas itu.


Ketika Grondhout, kepala pemboran, mendengar kabar tentang peristiwa malam hari itu dari Karman, seorang opas Patih, ia menyuruh babunya, Saunah, mencari dokar agar ia dapat pergi ke Serang. Akan tetapi, Saunah diberi tahu oleh pemilik dokar, bahwa tidak mungkin orang pergi ke Serang, karena jalannya sudah dirintangi dengan kawat-kawat telegrap. Saunah lalu pergi ke Jombang Masjid, di mana ia dapat menyewa sebuah dokar, akan tetapi ketika ia mendengar bahwa kaum pemberontak sedang mendekati Cilegon, ia lari kembali ke majikannya.


Serangan Umum

Memang pada saat itu sepasukan pemberontak di bawah pimpinan Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun sedang menuju gardu di Pasar Jombang Wetan. Muka mereka untuk sebagian ditutupi kain putih. Dari segala jurusan kaum pemberontak, baik yang bersenjata maupun yang tidak bersenjata, berdatangan menuju gardu tersebut. [11] Tidak lama kemudian, sepasukan pemberontak yang besar sekali jumlahnya muncul di jalan dari arah Bojonegoro, dan mereka juga bergerak menuju gardu itu. Sambil menyerukan pekik Sabil Allah mereka bergabung dengan orang-orang yang sedang berkumpul di sekitar Kiyai Haji Tubagus Ismail. Gerombolan yang dari utara dipimpin oleh Haji Wasid, Kiyai Haji Usman dari Tunggak, Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Nasiman dari Kaligundu. Orang-orang terus berdatangan sehingga pada akhirnya mencapai jumlah yang besar sekali.


Pemimpin utama operasi ini adalah Haji Wasid. Atas perintahnya, sebagian dari kaum pemberontak akan menyerbu penjara untuk membebaskan semua tahanan, sebagian lagi akan menyerang Kepatihan, dan sebagian lainnya lagi akan bergerak menuju rumah Asisten Residen. Pasukan yang pertama dipimpin oleh Lurah Jasim, jaro Kajuruan; [12]  pasukan kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun, dan pasukan yang terakhir dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Tunggak. Perintah untuk memulai serangan disambut oleh kaum pemberontak yang sudah berkobar- kobar semangatnya dengan teriakan- teriakan Sabil Allah. Pekik perang ini bergemuruh dan bergema dan terdengar jelas di semua kampung di Cilegon dan sekitarnya. Tempat berkumpul pasukan dalam sekejap mata menjadi sepi; hanya Haji Wasid dan sejumlah kecil anak buahnya yang masih tinggal di sana.


Sementara kaum pemberontak berkumpul, pejabat-pejabat pamongpraja dan keluarga mereka berusaha menyelamatkan diri dalam suasana ketakutan. Jaksa dan istrinya bersembunyi di rumah Ajun Kolektor, sementara istri Gubbels, Wedana, dua orang opas - Sadik dan Mian – bersama-sama dengan orang-orang lain berlindung di penjara. Istri-istri Wedana dan anak-anak mereka sudah ada di sana. Sebelum masuk ke dalam penjara, istri Gubbels minta kepada Sadik untuk mern cari anak-anaknya. Oleh karena jalan yang menuju rumah Asisten Residen sudah ditutup oleh kaum pemberontak, maka tidak ada jalan lain bagi Sadik kecuali melarikan diri ke sawah di belakang Kepatihan dan menjauhi Cilegon, kota kecil yang pada hari Senin tanggal 9 Juli menjadi ajang kekerasan berdarah. Kekerasan dan kekacauan berkecamuk sepanjang hari dan dalam waktu yang mengerikan itu hampir semua pejabat terkemuka di Cilegon jatuh sebagai korban senjata kaum pemberontak yang haus darah. Di sini kekuasaan asing benar-benar berhadapan dengan kekuatan pemberontak.


Dalam pertumpahan darah dan penghancuran yang berlangsung, Dumas merupakan korban yang pertama. la jatuh ke tangan Kiyai Haji Tubagus Ismail, Kamidin dan lain-lainnya, di rumah seorang Cina, Tan Keng Hok, dan dibunuh di tempat persembunyiannya. [13]


Rupa-rupanya seseorang telah melihat Dumas melarikan diri dari rumah Jaksa dan memasuki rumah orang Cina tersebut. Tidak lama kemudian, sejumlah pemberontak di bawah pimpinan Kiyai Haji Tubagus Ismail memasuki rumah itu. Tan Keng Hok diancam akan dibunuh, akan tetapi ia berhasil melarikan diri ketika kaum pemberontak sedang menggeledah rumahnya. Ketika ia sedang melarikan diri, ia masih sempat mendengar Dumas melolong kesakitan dan minta ampun. Beberapa tembakan mengakhiri hidupnya; mayatnya diseret keluar dan kemudian ditemukan di pinggir jalan yang menuju Bojonegoro. [14]


Pemberontak di bawah pimpinan Lurah Jasim bergerak menuju rumah Jaksa dan Ajun Kolektor. Mendengar pasukan pemberontak itu mendekat, kaum wanita lari dari persembunyian mereka di rumah Ajun Kolektor; istri Jaksa bersembunyi di sebuah rumah kosong di Kampung Baru, sedangkan istri Ajun Kolektor bersama-sama dengan panghulu pada pengadilan distrik, Mas Haji Kusen, bersembunyi di rumah orang yang bernama Iyas di desa itu juga. Menurut kesaksian istri Jaksa, Nyai Mas Ayu Kamsiah, rumahnya telah dirusak dan sejumlah barang yang sangat berharga telah diangkat. [15] Mas Ayu Rapiah; istri Ajun Kolektor, melaporkan bahwa kaum pemberontak telah menggedor rumahnya dan menghancurkan perabotan; mereka telah mencuri barang-barang seharga kurang-lebih dua ribu lima ratus gulden. [16] Nasib serupa dialami oleh rumah pejabat-pejabat pamongpraja lainnya.


Dari informasi yang diberikan di dalam laporan, Jaksa dan Ajun Kolektor rupa-rupanya telah jatuh ke tangan kaum pemberontak. Oleh karena mereka sangat tidak disenangi oleh rakyat, mereka pun dibunuh. Perlu dikemukakan bahwa di rumah Ajun Kolektor, para penyerang harus berhadapan dengan keberanian anaknya yang laki-laki, Kartadiningrat. la tidak mengindahkan perintah kaum pemberontak dan mempertaruhkan jiwanya untuk menyelamatkan rumah orangtuanya. Meskipun dengan kemahirannya dalam ilmu pencak ia berhasil melumpuhkan sejumlah orang yang menyerangnya, lawan yang dihadapinya terlalu banyak dan pada akhirnya ia pun jatuh dikeroyok oleh penyerang-penyerangnya. [17]


Tempat lainnya yang menjadi ajang amukan rakyat pada hari Senin yang bersejarah itu adalah rumah Asisten Residen. Seperti telah dikemukakan di atas, sepasukan pemberontak di bawah pimpinan Kiyai Haji Tubagus Ismail bergerak menuju rumah itu. Begitu Abusamad, seorang opas, melihat kedatangan mereka, ia menyuruh pelayan-pelayan lainnya bersembunyi di salah sebuah kamar di bagian belakang rumah. Ia sendiri berhasil meloloskan diri dengan jalan melompati tembok halaman belakang rumah. Semua personll lainnya di rumah Asisten Residen, yakni dua babu, seorang jongos, istri tukang masak dan istri penjaga kandang kuda, juga dua anak perempuan Gubbels, Elly dan Dora, bersembunyi di sebuah kamar di samping istal. Salah seorang anak mulai menangis, dan suaranya terdengar oleh salah seorang pemberontak yang segera memberitahukan kepada rekan- rekannya. Dalam sekejap mata, jendela dan pintu didobrak. Elly lari ke kebun tapi gadia malang itu segera ditangkap oleh kaum pemberontak dan dibunuh tanpa ampun lagi. Mayatnya kemudian ditemukan dalam keadaan rusak; kepalanya dipecahkan dengan sebuah batu besar. Nasib serupa menimpa saudaranya, Dora. la berusaha mengikuti babu-babunya, tapi mendapat bacokan di kakinya dan jatuh. Penyerang-penyerangnya mencincangnya sampai ia mati. Salah seorang yang menyaksikan pembantaian itu adalah Kalpiah, istri juru masak, yang tidak sempat melarikan diri. [18]


Kaum pemberontak masih mempunyai rasa kasihan terhadap diriya, dan ia diberi kesempatan untuk menyelamatkan diri asal mau bersumpah bahwa ia seorang Muslim dan mengucapkan kalimat syahadat. [19]  la dibebaskan dan melarikan diri ke rumah Juru Tulis Patih, tempat tinggal saudaranya, Kecil, dari Caringin. Bersama-sama mereka melarikan diri ke jurusan Anyer. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Asisten Residen dan kepadanya mereka menceritakan apa yang telah terjadi dengan anak-anak perempuannya.


Satu kekejaman lainnya terjadi pada hari Senin itu, kali ini di rumah di sebelah barat alun-alun, yang didiami oleh Sachet, kepala penjualan di gudang garam. Terlepas dari jabatan yang dipegangnya, kenyataan bahwa ia seorang pejabat Eropa tak disangsikan lagi telah ikut menimbulkan kebencian yang mendorong kaum pemberontak untuk menyerangnya. Dari rumahnya, Bachet dapat melihat kawanan besar pemberontak menyebar ke pelbagal jurusan. Di samping anaknya yang perempuan, Mary, pada saat itu terdapat dua anak kecil lainnya di rumah itu, yakni August Sachet, seorang kemenakan, dan Anna Canter Visscher. [20] Mula-mula ia memutuskan untuk membela diri dengan senjata apinya. Akan tetapi setelah ia melihat bahwa yang dihadapinya adalah sepasukan pemberontak dan menyadari bahwa tidak ada kemungkinan baginya untuk memberikan perlawanan yang efektif, ia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu bersama-sama penghuni lainnya. Mereka berhasil bersembunyi di rumah Ramidin di kampung yang terletak di belakang rumah Bachet. Bachet bersembunyi di kolong tempat tidur Ramidin, sementara anak-anak bersembunyi di belakang gorden. Setelah menemukan rumah Bachet dalam keadaan kosong. Kaum pemberontak yang dipimpin oleh Kiyai Haji Usman dari Tunggak melakukan penggeledahan di daerah sekitarnya dan segera mengetahui bahwa orang-orang yang mereka cari sedang bersembunyi di rumah Ramidin. Mereka mendobtak pintu memasuki kamar; Bachet melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan mengacungkan pistolnya ke arah penyerang- penyerangnya. Mereka mundur dan Sachet melepaskan tembakan dua kali; satu tembakan menewaskan Sadik dari Pencek dan tembakan lainnya mengenai kedua mata Kimbu dari Beji. Meskipun dengan pistolnya ia dapat merobohkan beberapa orang penyerangnya, ia pada akhirnya dapat dikalahkan dan dibunuh. Akan tetapi ketiga anak kecil selamat dan untuk beberapa waktu meteka tinggal di rumah Ramidin. [21]


Pada pagi hari itu juga, sebagian dari pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Lurah Jasim, bergerak menuju penjara, yang mereka serang dan dobrak pintu-pintunya. Sebelum pintu penjara dapat didobrak, istri Gubbels, Wedana dan Kepala Penjara berhasil meloloskan diri melalui bagian belakang bangunan itu. Dengan menggunakan tangga bambu mereka memanjat tembok dan setelah berada di luar penjara mereka lari menuju Kepatihan dengan menggunakan jalan pintas melalui halaman belakang. Pada waktu yang bersamaan, kaum pemberontak berhasil memasuki penjara dengan paksa dan segera membebaskan semua tahanan. Ketika itu tahanan berjumlah sekitar dua puluh orang; yang paling terkenal di antara mereka adalah orang yang bernama Agus Suradikaria. la rupa-rupanya dihukum penjara karena pelbagai kejahatan, di antaranya melakukan perkosaan dan korupsi. Perlu dicatat bahwa ia telah dipecat dari jabatannya yang terakhir sebagal asisten wedana Merak. Sayang kita tidak dapat menemukan berita acara mengenai pemeriksaan di pengadilan, oleh karena akan menariklah untuk mengetahui sampai sejauh mana kebenaran berita-berita - seperti yang dimuat oleh beberapa surat-kabar di masa itu - yang menyatakan bahwa persoalannya bukan sekedar apa yang nampak di permukaan, melainkan menyangkut persaingan antara Agus Suradikaria dan seorang pejabat terkemuka di Banten. [22] Bagaimanapun, tidak disangsikan lagi bahwa Agus Suradikaria tanpa pikir panjang lagi bergabung dengan kaum pemberontak agar ia dapat membalas dendam. Seperti akan kita lihat nanti, setelah dibebaskan ia tidak hanya memainkan peranan yang aktif dalam kerusuhan-kerusuhan, tetapi juga bertindak sebagai pemimpin dalam pelbagai kesempatan. Meskipun demikian, akan kelirulah untuk memandang dia sebagai penghasut utama pemberontakan, apalagi menganggap pemberontakan itu sebagai ekor pemeriksaan perkaranya di pengadilan. [23] Dua orang, Ardaman dan Mian, jatuh ke tangan pemberontak; yang pertama telah menyertai istri Gubbels dan Wedana ke penjara, dan yang kedua adalah opas Wedana. Mereka diseret dari persembunyian mereka di dalam penjara; mereka tidak dibunuh akan tetapi harus ikut dalam pemberontakan. Kedua orang dibawa ke gardu di Jombang Wetan untuk menghadap Haji Wasid yang di sana telah dinobatkan sebagai "raja". [24] Mereka merasa takut bahwa pada satu ketika mereka akan dibunuh juga, dan tidak lama kemudian mereka berhasil melarikan diri.


Seperti telah dikemukakan di atas, Patih Raden Penna sangat dibenci oleh para haji; dengan sendirinya tempat kediamannya - Kepatihan - menjadi salah satu sasaran utama serangan kaum pemberontak. Yang mengherankan adalah bahwa pada pagi hari Senin itu, Kepatihan itu justru menjadi tempat berlindung utama korban-korban yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan pertama kaum pemberontak. Selain anggota-anggota kerabat dan pelayan-pelayan Patih hadir pula di sana, beberapa saat sebelum tibanya kaum pemberontak : istri Patih, Raden Kenoh; anak perempuannya yang sudah dewasa, Raden Nuni; beberapa anak yang masih muda; ibunya, Nyai Raden Arsian; istri Gubbels, istri Dumas dengan ketiga anaknya, Wedana dan Kepala Penjara. Ketika tiba di Kepatihan, istri Gubbels begitu gugup sehingga ia hampir tak dapat berbicara sepatah kata pun; ia hanya minta dengan sangat agar orang mencari anak-anaknya dan agar diminta bantuan dari Serang. Akan tetapi sudah terlambat; sebelum orang dapat keluar rumah untuk mencari anak-anak itu, Kepatihan sudah dikepung kaum pemberontak. Meskipun semua pelayan Patih bersenjata, para penyerang tidak mendapat perlawanan. Mereka menyerang sambil berteriak-teriak "Bunuh patih" dan "Biarkan istri dan anak-anaknya". [25] Salah seorang pelayan, Sadiman, tertangkap dan dibunuh. Wedana dan Kepala Penjara juga tertangkap dan diminta mengucapkan syahadat; mereka juga harus bersumpah bahwa mereka akan ikut dalam pemberomtakan. Rumah digeledah, dan pemberontak mengetuk pintu kamar tempat kaum wanita mengunci diri. Istri Patih mengatakan kepada kaum pemberontak bahwa di kamar itu hanya ada wanita dan anak-anak. Kaum pemberontak tidak percaya; mereka memaksa agar pintu dibuka dan mengatakan bahwa wanita dan anak-anak tidak akan diapa-apakan. Raden Kenoh bersumpah bahwa suaminya sedang berobat di Serang. Pintu kemudian dibuka, akan tetapi kaum pemberontak tidak masuk, setelah mereka yakin bahwa di kamar itu tidak ada laki-laki. Setelah itu, kamar yang berhadapan dengan kamar yang pertama diperiksa dengan cara yang serupa. Sebelum penggeledahan dilanjutkan, wanita dan anak-anak diperintahkan untuk meninggalkan gedung itu; kepada mereka dikatakan bahwa tempat itu akan digunakan oleh para kiyai. Mereka melarikan diri dari Kepatihan ke pelbagai jurusan; bagaimana nasib mereka selama hari- hari yang penuh bahaya itu?


Ibu Patih ditangkap oleh seorang haji yang mengancam akan membunuhnya kecuali jika ia mau mengatakan di mana anaknya bersembunyi, la masih mujur, oleh karena tidak lama kemudian ia dibebaskan lagi. la melanjutkan perjalanan menuju Serang, akan tetapi terpaksa berhenti di rumah seorang pandai besi, tidak jauh dari gardu Jombang Wetan, oleh karena sudah kehabisan tenaga. la bersembunyi di sana sampai tibanya pasukan tentara dari Serang.


Sementara itu, Raden Kenoh dan anak-anaknya melarikan diri ke sawah di belakang Kepatihan dan berhasil sampai di Temuputih - sebuah desa di jalan yang menuju Mancak - dan tinggal di rumah orang yang bernama Kasan sampai kurang-lebih pukul 4 sore. Kasan, yang merasa gelisah karena menyembunyikan pelarian- pelarian itu, menyarankan bahwa sebaiknya mereka bersembunyi di tempat yang lebih jauh dari Cilegon. Mereka meneruskan perjalanan sampai di Kubanglesung, tapi jaro di situ menolak menerima mereka di rumahnya, oleh karena sudah ada larangan menyediakan tempat bagi kaum pelarian dari Kiyai Mahmud dari Trate Udik. Oleh karena itu mereka lalu tinggal di rumah seorang penduduk biasa.


Mengenai istri Dumas dilaporkan bahwa ia dan anak-anaknya lari ke dapur sebuah rumah kosong di Kampung Baru, dan bersembunyi di situ untuk beberapa lamanya. Istri Gubbels tidak mau ikut dengan mereka dan rupa-rupanya melarikan diri ke arah Serang. la bermaksud mencari dokar; akan tetapi setibanya di Saneja, yang diharapkannya akan dapat menyewa dokar, ia berhadapan dengan Nyai Kamsidah, istri Haji Iskak, yang tidak saja menolak membantunya mencarikan dokar, akan tetapi malahan menyerangnya. Perkelahian sengit berlangsung di antara kedua wanita itu. Ketika Nyai Kamsidah berteriak minta bantuan, dua orang laki-laki muncirl dan menyerang istri Gubbels dengan menyemprotkan sejenis cairan ke matanya. Catatan-catatan yang ada tidak memuat petunjuk tentang apa yang terjadi atas dirinya setelah itu. Hanya dikatakan bahwa mayatnya ditemukan kemudian oleh orang yang bernama Kamad. Mayat itu ditemukan di sebuah tempat di sebelah selatan jalan ke Serang, pada jarak sekitar seperempat paal dari Cilegon. [26] Dalam kesaksiannya, Kamad juga menerangkan bahwa ia telah melihat lima orang berdiri di dekat mayat itu, seorang di antaranya ia kenali sehagai Nyai Kamsidah.


Dalam satu hal tinjauan tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dalam pemberontakan ini mungkin mengecewakan para pembacanya; sedikit sekali, jika ada, dikisahkan tentang peristiwa-peristiwa bersejarah yang mempunyai skala "nasional"; yang disajikan hanyalah keterangan- keterangan terperinci tentang kegiatan kaum pemberontak, yang biasanya tidak menjadi perhatian ahli sejarah. Akan tetapi, untuk tujuan kita dan dari sudut pandangan kita, perincian-perincian itu sangat penting artinya karena memperlihatkan cara bekerja organisasi pemberontak. Orang akan keliru jika ia berandai bahwa tinjauan ini hanya akan menghasilkan sebuah daftar panjang yang memuat informasi terperinci dan yang akan membuat pembaca mengangkat bahunya sambil bertanya; "Lalu apa?" Yang penting adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang telah dilukiskan itu akan membantu usaha kita untuk memahami sifat-sifat yang esensial dari gerakan pemberontakan.


Pengejaran Terhadap Orang- Orang Yang Melarikan Diri

Kembali kepada tema pokok cerita ini : pemburuan terhadap pejabat-pejabat pemerintah yang berlangsung pada tanggal 9 Juli tidak mengendur. Setelah Cilegon diduduki oleh kaum pemberontak, dilancarkan usaha besar- besaran untuk mencari pejabat-pejabat yang berhasil meloloskan diri. Dikabarkan bahwa, setelah mengetahui kaum pemberontak sedang mendekat dari arah utara, Grondhout cepat-cepat meninggalkan rumahnya dan bersama-sama dengan istrinya bersembunyi di Kepatihan untuk sementara waktu. Oleh karena ia menganggap situasinya sudah sangat berbahaya, ia memutuskan untuk meloloskan diri dari Cilegon bersama istrinya dan seorang babu. la mendapat sepucuk senjata api, dan mereka berangkat ke barat ke jurusan Mancak. Ketika mereka tiba di Temuputih, seorang anak perempuan Ajun Kolektor, Nyai Mas Nganten, bergabung dengan mereka; beberapa jarak kemudian mereka berjumpa dengan Sadi, opas Asisten Residen, yang menolak menyertai mereka sebagai penunjuk jalan; ia hanya menunjukkan kepada mereka jalan setapak yang menuju sebuah kebun tebu. Akan tetapi mereka memutuskan untuk mengikuti jalan besar saja. Di Ciwaduk mereka bertemu dengan mantri cacar, Mas Ranggawinata, istrinya dan mertuanya yang perempuan, dan mereka sepakat untuk meneruskan perjalanan ke Anyer, di mana mereka mengharapkan akan bertemu dengan Asisten Residen. Ketika melewati gardu di Kusambi Buyut, pada jarak sekitar empat paal dari Cilegon, mereka ditanya oleh penjaga gardu - Oyang - tentang tempat yang mereka tuju. Kira-kira seper empat paal lewat gardu itu, mereka mendengar seseorang berseru kepada Mantri Cacar, bahwa mereka tidak usah melarikan diri karena Wedana, Ajun Kolektor dan Jaksa berada di desa Ciwedus yang tidak jauh dari sana. Mas Ranggawinata mengenali suara Dengi, jaro Bagendung. Karena percaya kepada kata-katanya, mereka kembali. Ketika mereka tiba kembali di gardu Kusambi Buyut, mereka berhadapan dengan sepasukan pemberontak. Kaum pemberontak memisahkan Grondhout, istrinya dan babunya dari yang lain-lainnya tanpa menggunakan kekerasan, lalu membentuk lingkaran di sekitar mereka. Tiba-tiba saja, Grondhout dihantam dari belakang; istrinya dan babunya berusaha melarikan diri, dan yang disebut belakangan bersembunyi di bawah rumput yang tinggi. Ia mendengar majikannya berteriak-teriak minta tolong; rupa-rupanya ia dibunuh di tempat itu juga, sama seperti suaminya. Sesudah itu, gerombolan mencari Saunah, babu tersebut, yang dalam waktu yang singkat dapat mereka tangkap. Ia diinterogasi, apakah ia babu Crondhout atau istri pejabat pribumi. la menjawab bukan, lalu dibebaskan. Menurut laporan, Mantri Cacar, istrinya dan mertuanya yang perempuan, disuruh menemui Lurah Kasar, jaro Pecek. Setelah mereka dibebaskan oleh yang disebut belakangan itu, mereka menuju Ciomas dan keesokan harinya meneruskan perjalanan ke Serang. [27]


Pemburu-pemburu utama Grondhout adalah Lurah Kasar sendiri, Haji Masna dari Pecek, Sarip dari Kubangkepuh, Haji Hamim dari Temuputih, dan Haji Kamad dari Pecek. [28] Dalam melakukan pengejaran terhadap Grondhout dan istrinya, sepasukan pemberontak menuju Mancak. Dekat Temuputih mereka dapat mengejar Sadi yang dipaksa memberi tahu mereka ke arah mana Grondhout pergi. Sadi selanjutnya bergabung dengan pemberontak itu, oleh karena ia takut akan dibunuh jika ia tidak berbuat demikian. Yang menarik adalah bahwa di antara orang-orang yang melakukan pengejaran itu terdapat Sarip, seorang di antara tahanan-tahanan yang dibebaskan ketika para pemberontak mendobrak penjara. [29] Kita akan melihat nanti, bahwa tahanan-tahanan lainnya yang telah dibebaskan itu berpihak kepada kaum pemberontak.


Sementara itu banyak satuan pemberontak masih berkeliaran di kampung-kampung dan desa-desa, memburu korban-korban mereka. Oleh karena mereka merasa takut untuk tinggal lebih lama lagi di rumah Ramidin, Mary Bachet, August Bachet dan Anna Canter Visscher berangkat ke arah utara.


Mereka tidak diperbolehkan tinggal di desa-desa yang mereka lalui, oleh karena mereka kafir. Di Trate Udik mereka mendapat perlakuan yang serupa; akan tetapi di sana Jaro menasihatkan agar mereka menyatakan bersedia masuk Islam, jika mereka berjumpa dengan kaum pemberontak. [30] Mereka meninggalkan Trate Udik dan bersembunyi di sebuah kebun tebu, namun mereka segera ditemukan. Di dalam kepungan pengejar-pengejar mereka, dan dalam ketakutan yang sangat ketika mendengar ancaman-ancaman, mereka minta ampun. Mary Bachet mengatakan bersedia masuk Islam, sementara August mulai mengucapkan syahadat dengan suara yang keras sekali. Rupa-rupanya pemimpin satuan pemberontak, Kiyai Usman dari Tunggak, menjadi lunak hatinya dan memerintahkan anak-anak itu untuk mengikutinya. Mereka kembali ke Cilegon, melalui jalan yang menuju Bojonegoro. Ketika sampai di gardu Jombang Wetan, mereka harus menghadap Haji Wasid. Setelah memberi hormat kepadanya dan mengulangi kesediaan untuk memeluk agama Islam, mereka mendapat perlakuan yang lebih baik. Mereka malahan mendapat perlindungan khusus dan, dengan disertai seorang pengawal, mereka pergi ke rumah mereka untuk ganti pakaian. Setelah itu, mereka diperintahkan untuk pergi ke rumah Asisten Residen. Di perjalanan mereka melihat empat mayat tergeletak di alun-alun.


Bagi kita tidaklah mengherankan bahwa pegawai-pegawai pamongpraja tingkat rendah, baik orang Eropa maupun orang Banten, mengalami nasib yang sama dengan yang dialami oleh atasan-atasan mereka, oleh karena kita tahu bahwa semua pegawai pemerintah kolonial jelas-jelas membuat diri mereka jadi sasaran kemarahan dan kebencian para kiyai dan murid-muridnya. [31] Kira-kira pada saat satuan-satuan pemberontak bergerak memasuki Cilegon, Raden Awimba - seorang juru tulis di Kantor Distrik - keluar dari rumahnya bersama-sama dengan istri dan anak-anaknya melalui pintu belakang dan berusaha bersembunyi di rumah Haji Abu. Akan tetapi usahanya itu gagal oleh karena kaum pemberontak segera mengejar dan menangkapnya. Di saat itu ia pasti berpikir bahwa ajalnya akan segera tiba. Namun mujur baginya, pada saat itu juga terdengar teriakan orang yang mengumumkan bahwa Bachet telah ditemukan. Untuk beberapa saat perhatian para penyerang dialihkan, dan Raden Awimba mendapat peluang untuk melarikan diri. la lari ke arah Trate Udik, di mana ia bermaksud untuk bersembunyi di rumah Mabengid. Akan tetapi kebebasannya tidak berlangsung lama, oleh karena ia jatuh ke tangan satuan pemberontak lain, yang ketika itu sedang mengumpulkan penduduk di dalam mesjid dan di dekatnya. la menyembah di hadapan Haji Mahmud dari Trate Udik dan minta ampun, akan tetapi salah seorang penasihat Haji Mahmud, Agus Suradikaria, menjawab bahwa ia tak mungkin diampuni oleh karena semua pejabat telah memberikan kesaksian palsu ketika ia sendiri sedang diadili. Satu hal lainnya yang menyebabkan penderitaan rakyat, seperti yang disebut-sebut oleh Agus Suradikaria, adalah pajak yang sangat berat yang tanpa belas kasihan dikenakan kepada rakyat. pada saat kaum pemberontak hendak menyerang Raden Awimba, mereka dipanggil oleh Haji Wasid, dan sekali lagi Raden Awimba mendapat peluang untuk melarikan diri; ia bersembunyi di sebuah kebun tebu tidak jauh dari tempat itu. la terus diuber oleh kaum pemberontak dan tidak lama kemudian ditangkap kembali. Kali ini ia dihadapkan kepada Haji Wasid dan kelihatannya ajalnya sudah dapat dipastikan. Ketika sedang mendekati alun-alun Cilegon, Raden Awimba mendengar sorak-sorai yang gempita - mungkin karena Gubbels telah dapat dirobohkan - dan tiba-tiba saja sejumlah pemberontak menyerbu untuk membunuhnya. pada saat itu juga ia berlutut di hadapan salah seorang pemimpin mereka dan minta ampun; ia tidak jadi dibunuh untuk sementara waktu. Tidak lama setelah ia tiba di rumah Asisten Residen, istri Dumas dan anak-anaknya dibawa masuk dan massa rakyat berdesak-desakan untuk melihat mereka. pada saat itu Raden Awimba dilupakan samasekali dan ketiga kalinya ia berhasil meloloskan diri dari tangan kaum pemberontak. [32]


Pusat Peristiwa

Dan sekarang, setelah kita mendapat gambaran secara ringkas tentang jalannya peristiwa di Cilegon dan sekitarnya, dengan tekanan khusus kepada usaha pengejaran yang dilakukan oleh kaum pemberontak terhadap pejabat-pejabat dan anggota- anggota kerabat mereka yang melarikan diri, kita horus memberikan perhatian kepada apa yang sementara itu sedang terjadi di tempat yang menjadi pusat peristiwa. Jaksa dan Ajun Kolektor telah ditawan, bersama-sama dengan Opas Mian. Pemberontak membawa mereka, bersama-sama dengan Wedana dan Kepala Penjara, ke gardu Jombang Wetan, yang merupakan markas Haji Wasid dan Haji Iskak. Para tawanan diperintahkan duduk di tanah di hadapan kiyai-kiyai itu, untuk menyembah kepada mereka dan mengucapkan sumpah bahwa mereka akan ikut dalam pemberontakan. Menurut kesaksian Mian, yang berhasil melarikan diri, rupa-rupanya setiap orang horus memberi hormat kepada Haji Wasid yang telah dinobatkan sebagai raja di gardu tersebut. [33] Wedana, Jaksa, Ajun Kolektor dan Kepala Penjara dibawa ke alun-alun dan dibunuh. kita tidak menemukan petunjuk tentang motif untuk membunuh mereka. Menurut sebuah laporan, mereka menjadi korban balas dendam Agus Suradikaria, akan tetapi menurut laporan-laporan lain, mereka dibunuh oleh karena Wedana dan Ajun Kolektor telah mengutuk perbuatan membongkar peti uang di kantor Ajun Kolektor. [34] Jaksa dan Kepala Penjara, menurut dugaan, dibunuh oleh karena mereka menolak bersumpah setia kepada kaum pemberontak. Di dalam peristiwa pembunuhan yang kejam itu, serangan pertama terhadap Wedana dilakukan oleh orang yang bernama Misal dan Kamidin dari Kubangkepuh. Di sini kita melihat bukti adanya kebencian rakyat yang mendalam terhadap pamongpraja dan perlawanan sengit yang telah direncanakan terhadap mereka.


Dengan mengisahkan nasib pejabat-pejabat dan anggota-anggota kerabat mereka, ketika mereka dikejar tanpa ampun oleh kaum pemberontak, kita telah menyimpang dari alur urutan peristiwa-peristiwanya. Sementara serangan umum berlangsung dengan sengitnya, satuan-satuan pemberontak dari segala jurusan, terutama dari utara, terus mengalir berdatangan untuk bergabung dengan pasukan induk. Dan pada pagi hari Senin itu, kaum pemberontak berhasil mengumpulkan satu pasukan yang terdiri dari beratus-ratus orang, baik yang bersenjata maupun yang tidak bersenjata. Haji Wasid rupa-rupanya terus berada di Cilegon sepanjang pagi hari itu, hari kekuasaannya yang singkat. Seperti telah diceritakan di atas, ia telah mengutus pembantu- pembantunya untuk menyebarluaskan pemberontakan. Sekitar pukul tujuh pagi. Haji Wasid memerintahkan sebuah detasemen untuk menuju Serang. atas desakan Haji Akhiya dari Jombang wetan, ketompok pertama berangkat ke arah itu. Tidak lama kemudian, kelompok kedua di bawah pimpinan Kiyai Usman dari Tunggak, Haji Usman dari Arjawinangun, dan Haji Abdulgani dari Beji berangkat pula. Sekitar pukul sepuluh, kelompok ketiga bertolak menuju Serang di bawah pimpinan Haji Iskak. Dalam perjalanan menuju ibukota karesidenan itu, pasukan-pasukan itu berhenti di beberapa tempat, mungkin untuk menantikan kedatangan Haji Wasid dan Haji Ismail. Tertundanya keberangkatan mereka rupa-rupanya ada hubungannya dengan pengejaran terhadap Asisten Residen, yang sementara itu sudah tiba di Cilegon. Dalam pada itu lebih banyak pasukan diberangkatkan duluan, setelah mereka menerima uang yang berasal dari kantor-kantor yang telah digedor.


Dari pelbagai sumber kita mengetahui bahwa Haji Wasid bermarkas di gardu Jombang Wetan dan dari sana ia memimpin pemberontakan. Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa kaum pemberontak memberi hormat kepada Haji Wasid sebagal "raja" atau Raja Islam, [35] sebuah gelar yang dalam periode yang kacau itu juga diberikan kepada Agus Suradikaria dan Haji Tubagus Ismail. Dalam kenyataannya, yang disebut terakhir itu tidak pernah tampil sbbagai pemimpin utama pemberontakan, melainkan sudah merasa puas bertindak sebagai tangan kanan dan penasihat Haji Wasid. Bagaimana bisa terjadi bahwa Haji Wasid memegang pimpinan sedangkan orang yang berdarah bangsawan dan bakal Wali itu mengikuti perintahnya, sulit dijelaskan, akan tetapi semua bukti menunjukkan bahwa Haji Tubagus Ismail, walaupun statusnya lebih tinggi, tidak lebih dari salah seorang pembantu utama Haji Wasid. Selama kekuasaannya yang berlangsung singkat itu, Haji Wasid mempunyai otoritas tertinggi dan memutuskan soal hidup dan mati. Meskipun pengikut-pengikutnya yang setia memanggilnya sebagai pemimpin tertinggi, ia rupa-rupanya menolak gelar raja dan mengakui Haji Tubagus Ismail sebagai atasannya dan bakal raja. [36]  Sekarang, mari kita sambung-sambungkan kembali benang-benang kisah mengenai ledakan amarah rakyat yang berdarah itu.


Pengejaran Terhadap Gubbels

Peristiwa yang sangat penting adalah pengejaran terhadap Asisten Residen. Secara kebetulan Gubbels sedang tidak berada di tempat tugasnya -- Cilegon - ketika pemberontakan pecah. Dua hari sebelum pemberontakan itu dimulai, ia meninggalkan Cilegon untuk menyertai Residen dalam perjalanan inspeksinya di afdeling Anyer, bersama-sama dengan Kontrolir Muda. Ketika pemberontakan sudah berkobar, Residen dan rombongannya berada di Anyer tanpa mengetahui sedikit pun tentang adanya bahaya yang mengancam. Memang ada informasi yang sampai kepada Gubbels pada sekitar pukul setengah delapan pagi hari Senin itu, yang disampaikan oleh Enggus, opas Wedana Cilegon, akan tetapi informasi itu samasekali tidak dihiraukan oleh Gubbels dan rekan- rekannya; surat yang disampalkan oleh Enggus hanya menyebutkan adanya suatu percobaan perampokan di mana Dumas mendapat luka-luka. [37] Atas pertanyaan Kontrolir Muda, Enggus menambahkan bahwa sebelum menggedor rumah Dumas, ada orang-orang yang mengetuk pintu Kepatihan. Kejadian itu dianggap tidak penting, dan beberapa saat kemudian Gubbels mengambil keputusan untuk kembali ke Cilegon. Tidak lama setelah Residen dan Kontrolir Muda meneruskan perjalanan ke Caringin, Gubbels - dengan dikawal oleh Jamil, seorang opas senior, dan beberapa orang lainnya - berangkat dengan dokar. Rupa-rupanya ia tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam, oleh karena itu tidak terpikir olehnya untuk membawa senjata. la berhenti di Cigading untuk mengganti kuda, dan mendengar kabar bahwa rakyat telah angkat senjata dan sudah menduduki Cilegon. Dari Kromo - kokinya - yang ia jumpai di sana, ia mendengar bahwa anak-anaknya telah dibunuh. Kromo menasihatinya agar ia jangan pergi ke Cilegon, akan tetapi Gubbels memerintahkan orang-orangnya agar cepat-cepat mengganti kuda. la bersikeras untuk pergi ke Cilegon, maka berangkatlah ia tanpa ragu-ragu dan tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Dokarnya melesat menuju Cilegon. Rupa-rupanya ia telah mengatakan kepada orang-orang, bahwa ia lebih baik mati saja apabila anak-anaknya sudah dibunuh. Di dekat Kalentemu ia berjumpa dengan sekelompok pemberontak yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang, yang menutup jalan. Kusir dokar bukannya berhenti melainkan langsung menerobos barisan pemberontak. Kaum pemberontak mula-mula minggir, akan tetapi segera setelah itu mereka melompat maju dan menyerang Asisten Residen, pengawal-pengawalnya dan dokarnya. Salah seekor kudanya ditusuk di perut, sementara Gubbels sendiri mendapat tusukan tombak di dada. Penyerangnya diketahui bernama Samidin, [38] sedangkan kelompok itu dipimpin oleh Haji Kalipudin. Meskipun telah mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari pemberontak dan meskipun ia sudah terluka parah, Gubbels memerintahkan kusir - Jas - agar secepat mungkin meneruskan perjalanan ke Cilegon. Kaum pemberontak tidak mengejar mereka, dan Jas berusaha sekuat tenaga agar mereka sampai di Cilegon; ia terus memacu kuda-kudanya dan dengan selamat mereka tiba di Cilegon. Babak terakhir tragedi mereka dimulai segera setelah mereka tiba di sana. Gubbels yang malang itu benar-benar telah menempuh satu perjalanan yang panjang dan penuh siksaan. Sekitar pukul sepuluh pagi dokar memasuki alun-alun, dan oleh karena jalan yang menuju rumah Asisten Residen terhalang oleh mayat-mayat, Jas menghentikan kendaraannya. Halaman muka rumah Asisten Residen penuh dengan kerumunan pemberontak yang besar sekali jumlahnya. Gubbels segera melihat bahwa tak mungkin baginya untuk memasuki rumahnya dan oleh karena itu ia turun dari dokar dan lari menuju Kepatihan. Kerumunan pemberontak melihatnya dan segera menyerbu sambil berteriak-teriak dan memekik-mekik; ada yang berseru agar ia dibunuh saja. Sebelum ia dapat mencapai Kepatihan, terdengar tembakan. la tidak terkena dan lari memasuki kamar depan Kepatihan di sebelah kanan. Pengejar-pengejar terus memburunya, di bawah pimpinan Haji Jahli yang memegang pistol yang sudah diisi peluru. Ketika H. Jahli mendekat, Gubbels melompat dari kamar dan merebut pistol itu. Kaum pemberontak segera berpencaran. Kabar tentang apa yang telah terjadi dengan keluarganya dan nasibnya sendiri yang malang telah membuat Gubbels kalap, dan ia bertekad untuk melawan kaum pemberontak, dan ia pun berteriak-teriak menantang mereka. Kerumunan pemberontak lalu mundur.


Sementara sekelompok pemberontak sedang mengejar Gubbels, satu kelompok lainnya mengejar Jamil, opas yang telah mengawal Asisten Residen dalam perjalanannya dari Anyer. Jamil ditangkap dekat rumah Ajun Kolektor dan dibawa ke gardu Jombang Wetan di mana, menurut laporan, ia dibunuh oleh Samidin yang telah disebutkan di atas. [39] Mengenai nasib Jas, sang kusir, dan anggota-anggota rombongan lainnya yang mengawal Asisten Residen, mereka semuanya dapat melarikan diri dalam ketakutan yang amat sangat. Dokar dan kuda-kudanya dirampas lalu dipakai untuk mengambil senjata api dari Bojonegoro yang akan digunakan untuk melancarkan serangan yang kedua terhadap Gubbels. [40] Seperi telah dikemukakan di atas, keberangkatan ke Serang terpaksa diundurkan untuk waktu yang cukup lama, akibat kehadiran Asisten Residen di Cilegon. Gubbels sudah pasti akan dibunuh begitu ia jatuh ke tangan pemberontak. Sementara itu persiapan-persiapan keberangkatan ke Serang sudah hampir selesai; pasukan-pasukan pemberontak satu demi satu berangkat, semuanya menuju ibukota, yang merupakan sasaran serangan umum yang final. Sepasukan pemberontak di bawah pimpinan bersama Haji Kasiman, Haji Mahmud, Agus Suradikaria, Kiyai Haji Madani dari Ciawi, Haji Koja dari Jombang Wetan, Haji Kalipudin, dan Haji Akhiya ditugaskan untuk mempertahankan Cilegon.


Pada saat pasukan pemberontak berangkat dari Kepatihan, Gubbels berada di serambi depan, duduk di sebuah kursi sambil memegang pistol. Saat-saat ini pasti merupakan saat-saat yang paling menakutkan bagi manusia yang malang itu. Sekitar tengah hari, istri Dumas tidak melihat lagi seorang pemberontak pun dan, karena ia mengira bahwa "segala sesuatunya sudah lewat", ia keluar dari persembunyiannya di Kampung Baru bersama-sama dengan anak-anaknya dan kembali ke Kepatihan untuk mencari anaknya yang bungsu. [41] Ia memasuki rumah itu dari pintu belakang, dan beberapa saat kemudian ia melihat Gubbels duduk di serambi depan. Atas permintaannya, istri Dumas mengambil air minum untuknya, dan setelah itu membawanya ke salah sebuah kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Ia masih menggenggam pistol, siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Oleh karena takut kaum pemberontak akan kembali dan membunuh anak-anaknya apabila mereka kedapatan sekamar dengan Gubbels, istri Dumas dan anak-anaknya bersembunyi di kamar lain, walaupun Gubbels menyatakan keberatannya, karena ia tidak ingin ditinggalkan sendirian. Mereka mengunci diri di dalam kamar dan daun pintunya mereka palangi dengan beberapa meja. Seperti sudah dapat diperkirakan, sekitar pukul setengah tiga petang hari itu, sejumlah pemberontak menuju Kepatihan. Setibanya di sana, sebagian kecil dari mereka, di bawah pimpinan Rapenye, jaro Ciora, menyerang rumah itu dari sebelah timur, Sekelompok lainnya berusaha mendobrak pintu depan; beberapa saat kemudian pintu pun terbuka dan mereka menyerbu menuju kamar tempat Gubbels bersembunyi. Kembali mereka berhadapan dengan pintu tertutup, dan rupa-rupanya mereka memerlukan perkakas untuk dapat membukanya. Sementara kelompok ini berusaha memasuki rumah, kelompok lainnya melepaskan tembakan-tembakan yang menghancurkan kaca jendela. Gubbels benar-benar tak berdaya menghadapi kaum pemberontak itu, dan tak ayal lagi ia akan dibunuh di tempat itu juga oleh penyerang-penyerangnya. Akhirnya pintu dapat didobrak; kaum pemberontak menyerbu ke dalam kamar dan menyergap korban mereka yang sudah tidak berdaya itu. Dari kamarnya, istri Dumas mendengar kaum pemberontak bergerak kian kemari dan Gubbels merintih kesakitan. Lalu keadaan menjadi sunyi. Itulah akhir hayat Gubbels yang mengerikan. Mayatnya kemudian diseret ke luar rumah dan disambut dengan pekik kemenangan yang gemuruh; Asisten Residen, yang dianggap sebagai alat utama pemerintah kolonial, sudah mati.


Di Markas Pemberontak

Tidak lama setelah Gubbels dibunuh, kaum pemberontak memukul-mukul pintu kamar tempat istri Dumas dan anak-anaknya bersembunyi. Kaum pemberontak menjadi marah dan mengancam istri Dumas dengan siksaan apabila ia tidak mau membuka pintu. la minta ampun dan mengatakan bahwa ia bersedia masuk Islam. Kaum pemberontak merasa puas dengan pernyataannya itu dan tidak membunuh wanita dan anak-anaknya itu; mereka dibawa ke rumah Asisten Residen dan di situ mereka harus menghadap tuan raja. Di sana mereka bertemu dengan Mary Sachet, August Sachet dan Anna Canter Visscher yang sudah tiba di sana duluan.


Seperti telah disebutkan di muka, sebagian dari pasukan pemberontak ditempatkan di Cilegon, sedangkan sebagian besar lainnya diperiritahkan menuju Serang. Tidak lama setelah Asisten Residen dibunuh, Haji Wasid dan Kiyai Haji Tubagus Ismail berangkat dengan dokar menyusul pasukan untuk merampungkan pemberontakan. Mereka yang tinggal dikumpulkan di rumah Asisten Residen. Menurut kisah Mary Bachet, rumah itu sudah diranjah dan isinya diangkut; uang yang terdapat di rumah itu diambil dan dibagi-bagikan kepada kaum pemberontak. Di serambi depan, pemimpin-pemimpin mereka, di antaranya Agus Suradikaria, berembuk. Mary Bachet yang diberi kebebasan bergerak, dapat dengan leluasa melihat ke sana ke mari dan mengobrol dengan beberapa pemberontak. la menjumpai mayat anak-anak Gubbels, yang bungsu tergeletak di ambang pintu kamar pelayan dan yang paling tua di kebun. Dari kejauhan ia juga dapat menyaksikan peristiwa serangan berdarah terhadap Asisten Residen di alun-alun. Ia mendapat perlakuan yang baik, oleh karena ia sudah terpilih untuk menjadi istri tuan raja. [42]


Rupa-rupanya detasemen yang ditempatkan di Cilegon berada di bawah pimpinan Agus Suradikaria. Bekas pejabat yang telah membelot dan bergabung dengan kaum pemberontak itu mengetuai rapat haji-haji terkemuka di serambi depan. la menyuruh anak buahnya untuk menjaga jalan-jalan keluar dari Cilegon. la juga mengadakan semacam sidang pengadilan dan memutuskan nasib istri Dumas, setelah wanita itu berjanji akan memeluk agama Islam. Agus Suradikaria kemudian mengucapkan ayat-ayat tertentu yang harus diulangi oleh istri Dumas. Wanita itu lalu diizinkan untuk duduk di sebuah kursi di pojok serambi depan. Tidak lama kemudian beberapa orang disuruh ke rumah Bachet untuk memotong seekor sapi. pada sore hari itu juga dilangsungkan sebuah jamuan makan yang dihadiri oleh orang-orang yang tinggal di dalam rumah Asisten Residen dan sekitarnya. Menurut laporan, pada jamuan itu August Sachet harus bertindak sebagai pelayan tali api. [43] Sesudah itu, orang-orang sibuk menghancurkan arsip-arsip, membakar sejumlah besar dokumen yang diambil dari kantor Ajun Kolektor, Jaksa, dan Asisten Residen. [44] Rupa-rupanya pembakaran arsip-arsip itu dilakukan atas perintah Haji Wasid sendiri. Menjelang senja lebih banyak pasukan pemberontak diberangkatkan; satu pasukan menuju Anyer, satu pasukan lainnya diperintahkan untuk bergabung dengan pasukan yang sedang bergerak menuju Serang, dan pasukan yang ketiga ditugaskan untuk memperkuat penjagaan di jalan jalan masuk Cilegon. [45]


Raden Penna Bertindak

Ketika pemberontakan mulai berkobar di Cilegon, patih Anyer, Raden Penna, secara kebetulan sedang berada di Serang pada pagi hari tanggal sembilan Juli, Saca - seorang opas yang diutus oleh istri Patih - menyampaikan berita kepadanya bahwa rumah Dumas telah digedor pada malam hari sebelumnya dan bahwa Dumas sendiri telah terluka parah. Setelah menerima kabar itu, ia segera memanggil dokar dan cepat-cepat berangkat ke Cilegon. Rupa-rupanya Raden Penna tidak kehilangan akal dan bertekad untuk menghadapi perusuh-perusuh itu. Sebelum meninggalkan Serang, ia minta kepada Dokter Jacobs, dokter keresidenan, untuk menyertainya agar ia dapat memberikan pertolongan medis kepada Dumas. Perjalanan ke Cilegon penuh dengan bahaya setiap saat Raden Penna dapat berjumpa dengan satuan-satuan pemberontak yang berkeliaran. Sebelum sampai di Kramat Watu, ia berjumpa dengan Sedut, yang mengabarkan kepadanya bahwa Cilegon sudah diduduki oleh sejumlah besar pemberontak. Setibanya di Kramat Watu ia mendapat keterangan-keterangan yang lebih terperinci tentang hasil-hasil yang telah dicapai oleh kaum pemberontak pada permulaan pemberontakan mereka. Patih lalu mengutus Sadik - yang telah menyampaikan kabar itu kepadanya di Kramat Watu - ke Serang untuk minta bantuan militer. la sendiri mempersenjatai diri dengan sebilah kelewang dan, dengan disertai pula oleh Juru Tulis Wedana, ia meneruskan perjalanan dengan menunggang kuda ke Serdang. Di ujung timur Serdang ia berjumpa dengan wedana Kramat Watu dan asisten wedana Serdang. Mereka bersama-sama meninggalkan Serdang. Mereka sedang mendekati Cilegon, ketika mereka berjumpa dengan sejumlah orang bersenjata dan sebuah dokar dengan dua atau tiga orang di dalamnya. Tiba-tiba seorang di antara penumpang dokar itu melompat ke luar dan membidikkan pistolnya ke arah Patih. Oleh karena mereka menyadari bahwa mereka menghadapi lawan yang terlalu banyak sehingga mereka akan sangat membahayakan diri mereka sendiri apabila mereka melawan, mereka cepat-cepat kembali. Akan tetapi tidak jauh dari sana, di sebelah timur dekat Cibeber, mereka melihat sejumlah besar pemberontak, dan mereka cepat-cepat kembali ke arah Serdang. Setelah melewati Serdang, Patih dan Wedana menaiki kuda mereka, sementara Asisten Wedana diperintahkan untuk bersembunyi dan Saca disuruh kembali ke Serang dengan dokar untuk minta bantuan. Kita mengetahui dengan pasti bahwa Patih yang tabah dan berani itu menunjukkan sikap yang tegas dalam menghadapi pemberontakan. Patih memutuskan untuk dengan cara apa pun berusaha mencapai Cilegon; ia bermaksud untuk tidak menempuh jalan yang langsung, lewat Serdang dan Cibeber, melainkan mengambil jalan memutar melalui Pagebangan. Patih dan Wedana berangkat menuju Temuputih dengan harapan akan dapat memasuki Cilegon dari sana, namun di sana pun mereka melihat kerumunan orang yang besar jumlahnya dan mereka tidak berani mendekati tempat itu. Mereka menghindari Temuputih dan melanjutkan perjalanan ke arah Jombang Kulon, akan tetapi kembali mereka berhadapan dengan sekelompok pemberontak - yang terdiri dari sekitar dua puluh orang -- yang menutup jalan. Patih menyapa mereka dan memperingatkan bahwa pasukan tentara sedang dalam perjalanan dan akan menembaki orang-orang yang berkumpul. Orang-orang itu lalu bubar dan kembali ke desa mereka. Dengan demikian, jalan terbuka bagi Patih dan Wedana untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Cilegon, akan tetapi ketika mereka memacu kuda mereka, kuda yang ditunggangi Patih menjadi gelisah. Raden Penna memperhatikan keadaan di sekeliling mereka dan melihat tiga orang sedang mendekat, menyelinap melalui rumpun bambu. Tiba-tiba mereka melompat ke arah Patih, dan hanya karena Wedana masih sempat memberikan peringatan dan Raden Penna secepat itu pula mengelak ke samping, ia terhindar dari sabetan kelewang. Setelah terhindar dari bahaya itu, mereka membatalkan maksud mereka untuk pergi ke Cilegon, lalu menuju Anyer dengan harapan dapat bertemu dengan Asisten Residen di sana. Sekitar pukul tiga petang mereka tiba di rumah Wedana Anyer Lor. [46] Di sini Raden Penna berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan orang-orang yang bersedia berangkat ke Cilegon untuk melawan kaum pemberontak. Oleh karena penduduk Anyer Kidul belum pulih dari panik mereka, maka agaknya diperlukan waktu lama untuk mengerahkan sukarelawan dalam jumlah yang cukup banyak untuk disusun menjadi sebuah regu penolong. Seperti akan kita lihat nanti, pasukan penolong di bawah pimpinan Raden Penna itu baru bisa berangkat keesokan harinya.


Pemberontakan Di Kecamatan-Kecamatan

Untuk melengkapi gambaran tentang situasi di Banten Utara selama periode yang rusuh itu, perlu dilukiskan secara singkat keadaan di tempat-tempat lainnya di daerah itu. Pada hari Senin itu, sementara pemberontakan sudah berkobar di Cilegon, huru-hara pecah di tempat-tempat lain, seperti Bojonegoro, Balagendung, Krapyak, Grogol dan Mancak.


Di Bojonegoro pemberontakan meletus Minggu malam, malam yang mendahului hari pecahnya pemberontakan di Cilegon. Ketika tiba di Beji dari Saneja, Haji Wasid melihat orang-orang sudah berkumpul menunggu kedatangannya. la segera memerintahkan sebagian dari pasukannya untuk pergi ke Bojonegoro dan mencari asisten wedana setempat untuk dibunuh. Rumah Asisten Wedana digeledah dan diranjah, arsip-arsip dibakar, akan tetapi pemiliknya tidak ditemukan. la sedang dalam perjalanan inspeksi ke desa-desa di wilayah wewenangnya. Akan tetapi kaum pemberontak dapat melampiaskan kemarahan dengan membunuh Juru Tulis Asisten Wedana, Asikin, yang ditemukan sedang tidur di rumah atasannya. [47] Keesokan harinya, kaum pemberontak menggeledah seluruh daerah di sekitar Gunung Awuran untuk mencari Asisten Wedana, namun sia-sia. Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa salah seorang pemimpin pemberontak telah merampas dokar Asisten Wedana yang kemudian digunakan untuk mengangkut kaum pemberontak ke Cilegon pada hari Senin itu juga. [48]


Salah satu tindakan kekerasan yang terjadi di Balagendung pada tanggal 9 Juli adalah serangan terhadap rumah Asisten Wedana, yang seperti semua rekan-rekan sejawatnya merupakan sasaran utama kaum pemberontak. la masih mujur karena mendapat peringatan pada waktunya dan melarikan diri ke Serang. Juga rumahnya dihancurkan; isinya diangkut dan arsip-arsip dibakar. Rupa-rupanya seorang yang bernama Arsudin dipaksa oleh kaum pemberontak untuk ikut dengan mereka mengejar Kepala Desa Balagendung, yang hendak mereka bunuh. [49]


Dilaporkan bahwa sejumlah orang telah berusaha menangkap Asisten Wedana Krapyak, akan tetapi ia masih sempat melarikan diri ke Serang, sehingga mereka dengan sia-sia mencarinya di rumahnya. Di wilayah ini, seperti di tempat-tempat lainnya, penghancuran isi rumah Asisten Wedana dan pembakaran dokumen-dokumen resmi nampaknya merupakan salah satu ciri utama kegiatan kaum pemberontak. Demikian pula rumah Asisten Wedana Grogol dihancurkan pada hari Senin itu dan arsip-arsipnya dibakar. Ketika mendengar bahwa telah terjadi huru-hara di Cilegon, Asisten Wedana Grogol segera berangkat ke sana, akan tetapi di tengah jalan ia berhadapan dengan sepasukan pemberontak yang menyerangnya dan setelah membunuhnya, melemparkan mayatnya ke dalam sungai. [50]


Keesokan harinya, tanggal 10 Juli, kaum pemberontak di bawah pimpinan Haji Sapiudin dari Leuwibeureum, setelah bersalat subuh di langgar haji tersebut, berangkat ke Mancak dan meranjah rumah Asisten Wedana. Mereka merampas sepucuk pistol dan membakar arsip. Setelah itu mereka mengundurkan diri ke Cipeucang, di mana mereka dijamu makan oleh kepala desa, Moiji. [51] Menurut laporan, Asisten Wedana Mancak telah pergi ke Anyer Kidul untuk menyertai Residen ke Caringin.


Pemusatan Pasukan Pemberontak Sekitar Serang

Beralih dari afdeling Anyer ke afdeling Serang, kita menyaksikan pemandangan yang lain. Pada tanggal 9 Juli satuan-satuan pemberontak dari distrik Serang dan daerah-daerah sekitarnya semuanya berkumpul di Bendung, Trumbu, Kubang, Kaloran dan Kaganteran; pasukan pertama dipimpin oleh Haji Mohamad Asik; pasukan kedua dipimpin bersama oleh Haji Mohamad Kanapiah dan Haji Muhidin; pasukan ketiga dipimpin oleh Katab, seorang pedagang tembakau, dan pasukan keempat dipimpin oleh Raim, seorang bekas kepala desa Kaujon, sedangkan pasukan ketiga dan keempat itu berada di bawah pengawasan Mas Haji Mohamad Sangadeli; pasukan terakhir dipimpin oleh Haji Abubakar. [52] Perlu diingatkan kembali, bahwa setelah menerima pesan tertulis dari Haji Wasid yang menyatakan bahwa pemberontakan akan dimulai Minggu malam itu juga, Haji Mohamad Asik mengutus pembantu-pembantunya, terutama ke Kubang, Kaloran dan Kaujon, untuk mengumumkan kabar itu dan menyerukan kepada murid-murid dan pengikut-pengikutnya agar bersiap-siap untuk berontak. [53] Seruan untuk berontak sampai kepada Haji Mohamad Kanapiah melalui Haji Muhidin, yang pada Minggu malam tanggal 8 Juli mengadakan rapat di rumah Haji Mohamad Kanapiah untuk membicarakan pelbagai soal yang berhubungan dengan pemberontakan itu. [54]


Keesokan harinya orang-orang datang berduyun-duyun di Bendung dan setelah mendapat pengikut yang besar jumlahnya, Haji Mohamad Asik menyatakan siap untuk memulai perjalanan menuju jantung Banten. Semua pejuang diperintahkan minum air suci agar mereka kebal dalam pertempuran, dan Haji Mohamad Asik sendiri memberkahi mereka. [55] Sementara itu, sebuah satuan pemberontak lainnya berkumpul di Trumbu, di bawah pimpinan Haji Mohamad Kanapiah, yang dibantu oleh Haji Akhmad, Haji Baiki, dan Dirham. Juga di sini dilangsungkan acara menyucikan diri di bawah pimpinan Haji Mohamad Kanapiah sendiri. [56] Sementara itu, Haji Abubakar telah mengumpulkan pengikut-pengikutnya di Kaganteran dan menempuh jalan yang menuju Karangantu dengan dalih hendak bekerja di kebunnya. [57] Menurut rencana yang telah ditetapkan, satuan-satuan itu akan mulai beroperasi setelah menerima perintah dari Haji Wasid. Serang akan diserang dari pelbagai jurusan; pasukan di bawah pimpinan Kiyai apa dari Dayeuh Kolot akan mendekati tangsi militer dari sebelah selatan, sementara pasukan- pasukan lain yang dipimpin oleh Haji Mohamad Asik dan Haji Mohamad Sangadeli akan memasuki kota dari pelbagai tempat dan jurusan. Sepanjang hari Senin tanggal 9 Juli, kaum pemberontak terlihat berkumpul di Mesjid Agung Serang dan di sekitarnya serta di kampung-kampung Kaloran dan Kaujon. Mata-mata dikirimkan ke dalam kota untuk melakukan pengintaian, dan setelah mereka mengetahui bahwa alun-alun dijaga oleh tentara, pemimpin- pemimpin pemberontak tidak berani memberikan perintah untuk menyerang. [58] Setelah menanti sepanjang hari dalam suasana tegang tidak menentu, maka Senin malam mereka akhirnya menerima kabar dari Haji Wasid tentang apa yang telah terjadi di Cilegon. Dalam suasana muram pasukan-pasukan pemberontak kembali ke Bendung dan Trumbu. Mereka terus disiagakan di sana sampai hari Rabu tanggal 11 Juli, lalu dibubarkan. [59]


Hal-Hal Yang Menarik Mengenai Pemberontakan

Sebelum kita meneruskan kisah tentang kegiatan-kegiatan pemberontak, ada beberapa hal yang menarik mengenai pemberontakan itu yang perlu ditelaah. Apabila kita meninjau kembali jalannya pemberontakan pada umumnya, maka kelihatannya ada alasan yang kuat untuk beranggapan bahwa pemberontakan itu merupakan buah hasil satu rencana yang menyeluruh. Organisasi yang digunakan untuk melaksanakan pemberontakan itu meliputi seluruh afdeIing Anyer dan distrik-distrik bagian barat Kabupaten Serang. Rupa-rupanya distrik-distrik di bagian timur kabupaten itu dan bagian utara Kabupaten Pandeglang tidak termasuk dalam daerah utama pemberontakan. [60]


Di daerah-daerah itu tidak terjadi kerusuhan-kerusuhan yang dianggap cukup penting untuk disinggung dalam catatan-catatan di masa itu. Tidaklah mungkin untuk memperkirakan dengan tepat jumlah anggota pasukan-pasukan pemberontak selama huru-hara itu. Dalam serangan malam hari terhadap rumah Dumas, pihak penyerang diduga berjumlah sekitar seratus orang. [61] Ketika terjadi serangan terhadap Cilegon pada pagi hari Senin, pasukan pemberontak dari arah utara yang dipimpin oleh Haji Wasid diperkirakan berkekuatan sekitar empat atau lima ratus orang. [62] Menurut berita acara sidang-sidang pengadilan, jumlah pemberontak yang dipusatkan di Bendung diperkirakan sekitar empat ratus orang, [63] dan menurut laporan Residen, yang dikerahkan di Trumbu berjumlah sekitar enam ratus orang. [64] Untuk menyerang rumah Asisten Wedana di Krapyak dikerahkan sekitar 60 orang. [65] Di Jombang Kulon, orang-orang yang menjaga jalan keluar Cilegon di sebelah barat hanya berjumlah dua puluh orang. [66] Dan akhirnya, di Toyomerto, pasukan pemberontak yang berhadapan dengan tentara dari Serang berjumlah sekitar dua ratus orang. [67] Saya tidak hendak mengatakan bahwa angka-angka itu dapat diandalkan ketepatannya, akan tetapi saya menyajikannya sekedar untuk memberikan gambaran mengenai kekuatan pasukan pemberontak dari segi jumlah anggotanya.


Dalam kaitannya dengan penyajian angka-angka itu, timbul satu pertanyaan yang penting. Sampai sejauh mana kaum pemberontak mendapat dukungan aktif dari rakyat biasa? Di samping pengikut-pengikut para kiyai yang fanatik, terdapat banyak orang yang ikut dalam pemberontakan hanya karena mereka menghormati kiyai-kiyai itu atau karena menaruh rasa dendam terhadap para pejabat. Sudah barang tentu ada juga orang-orang yang bertindak karena dipaksa dan malahan diancam akan dibunuh. [68] Sebaliknya, tidak mengherankan samasekali bahwa daerah-daerah tertentu - di mana terdapat inti elite revolusioner - telah menyumbangkan sejumlah besar peserta pemberontakan, umpamanya Arjawinangun dan Beji. [69] Seperti akan ditunjukkan nanti, pemberontakan itu samasekali tak mendapat dukungan rakyat di luar afdeling Anyer dan distrik-distrik bagian barat Kabupaten Serang. Juga perlu dicatat bahwa kepala-kepala desa memang hadir di tempat-tempat pemusatan pemberontak; rupa-rupanya di antara mereka ada yang ikut dengan penuh gairah dalam pemberontakan, sementara ada pula kepala-kepala desa yang membantu aktif hanya karena dipaksa oleh kaum pemberontak. [70] Sedikit sekali bekas pegawai pamongpraja tingkat rendahan yang secara aktif ikut dalam tindakan- tindakan kekerasan. [71] Akhirnya, tentu tidak mengherankan bahwa tahanan-tahanan yang telah dibebaskan memihak kaum pemberontak.


Cukup jelas kiranya bahwa pejabat-pejabat pamongpraja telah menjadikan diri mereka sasaran kebencian kaum pemberontak dan bahwa mereka terus menjadi sasaran serangan selama berlangsungnya kerusuhan-kerusuhan itu. Tidak disangsikan lagi bahwa tindakan- tindakan kaum pemberontak sangat dipengaruhi oleh sikap permusuhan mereka terhadap setiap orang yang ditugaskan untuk melaksanakan peraturan-peraturan pemerintah, memungut pajak dan menegakkan hukum. Mungkin kebencian rakyat terhadap pamongpraja itulah yang telah dimanifestasikan dalam perbuatan menghancurkan arsip-arsip pemerintah dan rumah-rumah pejabat. Di sini kita rupa-rupanya berhadapan dengan ciri-ciri yang sangat menonjol dari pemberontakan itu. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan bahwa tidak nampak adanya sikap permusuhan terhadap orang-orang asing bukan Eropa, seperti orang-orang Cina atau Arab. Rupa-rupanya hanya beberapa orang Cina saja yang diganggu, [72] sementara seorang Arab kelihatan di antara kerumunan orang di rumah Asisten Resoden. [73]


Sebuah pertanyaan penting dalam hubungannya dengan tindakan- tindakan penghancuran itu adalah, apakah yang kita hadapi di sini hanya kejahatan semata-mata ataukah tindakan-tindakan sosial atau politik tertentu. Dalam banyak hal kita melihat bahwa mereka mencari dokumen- dokumen yang kemudian mereka bakar. Dalam dua peristiwa kaum pemberontak mencuri uang dalam jumlah yang besar [74] - yakni uang dari kantor Ajun Kolektor dan dari kantor Kepala Penjualan Garam. Juga ada berita acara mengenai dua sidang pengadilan di mana kaum pemberontak dituduh telah mencuri untuk kepentingan pribadi. [75] Kesaksian yang diberikari oleh seorang Cina adalah mengenai peristiwa-peristiwa di mana toko-toko digedor dan barang- barang dagangannya dirampok. [76] Kita tentunya dapat berasumsi bahwa kejahatan-kejahatan itu dilakukan oleh anggota-anggota bawahan pasukan pemberontak, oleh karena menurut apa yang dapat diketahui dari catatan- catatan, pemimpin-pemimpin mereka tetap berpegang pada motif-motif yang tidak mementingkan diri sendiri. Rupa-rupanya uang dan pistol kepunyaan Asisten Wedana Mancak tidak dicuri untuk kepentingan pribadi, melainkan demi kepentingan pemberontakan pada umumnya. [77] Selain itu, kenyataan bahwa tidak satu pun rumah yang dibakar setelah diserang atau isinya dihancurkan, menunjukkan adanya semacam sikap menahan diri di kalangan pemberontak dalam melaksanakan tugas-tugas yang telah mereka pilih.


Sebelum beralih ke kesudahan pemberontakan itu, kita harus menelaah situasi yang dihadapi kaum pemberontak sebagai hasil perbuatan mereka. Mereka telah menduduki ibukota afdeling Cilegon, dan pemberontakan menjalar ke segala jurusan di daerah itu. Akan tetapi kemenangan itu tidak berlangsung lama. Pasukan-pasukan pemberontak terdiri bukan dari prajurit-prajurit reguler melainkan dari petani-petani biasa, yang tidak siap untuk mengambil bagian dalam sebuah kampanye yang berlangsung lama. Selain dari itu, pemimpin-pemimpin mereka, mungkin karena terlalu yakin dan terlalu percaya pada orang lain, tidak mempersiapkan rencana yang mencakup jangka waktu yang panjang. Hanya selama tidak menghadapi pasukan bersenjata yang efektif sajalah kaum pemberontak dapat mempertahankan posisi mereka.


Pertanyaan yang masih harus dikemukakan adalah usaha-usaha apa yang telah dilakukan untuk mengerahkan pasukan guna menghadapi kaum pemberontak itu. Kita telah melihat bahwa kaum pemberontak hanya menghadapi perlawanan dari orang perorangan saja. Dalam tahap berikutnya dalam pemberontakan itu, kekalahan kaum pemberontak nampaknya disebabkan karena tidak adanya rencana pertahanan di pihak mereka dan bukan karena adanya tindakan yang cepat dan tegas dari pihak pejabat-pejabat setempat. Pemimpin-pemimpin pemberontak dan pengikut-pengikut mereka, yang disilaukan oleh keyakinan bahwa mereka tak dapat dikalahkan dalam Perang Sabil ini, tidak menyadari bahwa organisasi dan strategi militer yang lebih efektif mutlak diperlukan. Ketiadaan strategi yang demikian tak boleh tidak membawa mereka kepada bencana.


Catatan Kaki

[1] Ketika pemberontakan pecah, yang menjabat asisten residen adalah J.H.H. Gubbels, patih Raden Penna, jaksa Mas Sastradiwirja, wedana Raden Cakradiningrat, ajun kolektor Raden Purwadiningrat, penghulu Haji Tubagus Kusen. Selanjutnya kontrolir muda C.W.A, van Rinsum, kepala penjualan garam U. Bachet, juru tulis kantor asisten residen H.F. Dumas, dan kepala pemboran J. Grondhout; Lihat Javansche Almanak (1888), hal. 18; Djajadiningrat (1936), hal. 39; juga Appendix VII.

[2] Pada malam hari Minggu, tanggal 8 Juli, sekitar 50 orang dari Gulacir bergerak menuju Cilegon, lihat PV 9 Apr. 1889.

[3] MR, No. 1336 (1889), hal. 17; menurut lG (1891), no. 2, hal. 1164, serangan terhadap rumah Dumas itu dilakukan pada pukul 3 dinihari; cf. Laporan DDI, hal. 9.

[4] MR, No. 1336 (1889), hal. 17; lihat juga OIB 1 Ag. 1888, no. 2, yang menyatakan bahwa Minah telah dianugerahi medali perunggu.

[5] MR, No. 1336 (1889), hal. 17; Laporan DDI, hal. 10 - 17. Lihat juga PV 3 Jan. 1889; PV 26 Maret 1889, dalam Exh. 14 Mei 1889, no. 121.

[6] Sebab-sebab ketidakpuasan di kalangan rakyat, dengan tekanan khusus pada kekurangan-kekurangan Raden Penna, dikemukakan dalam tiga surat kaleng dan surat yang dikirimkan oleh H. Mohamad; lihat di alas, Bab III, di bawah catatan no. 61.

[7] Menurut salah satu surat kaleng itu, rapa-rupanya pada tanggal 15 Juni 1888, asisten wedana Grogol, Mas Salim, telah minta perhatian Patih terhadap desas-desus yang tersiar di kalangan takyat mengenai akan terjadinya huru-hara itu; lihat Renvooi Pemerintah tanggal 26 luli 1888, no. 13079, dalam Laporan DDI, Appendix 1.

[8] MR, No. 1336 (1889), hal. 19; Laporan DDI, hal.14.

[9] Minah dibawa pulang oleh suaminya, Kamid, dan kemudian, pada tanggal 13 Juli dibawa ke rumah sakit di Serang, di mana ia dirawat sampai tanggal 17 September; bayi meninggal dunia pada tanggal 24 Juli; lihat IWR, No. 1337 (1889), hal. 21; juga Surat resmi dari Direktur Departemen Dalam Negeri, 1 Juli 1888, LaL., dalam Vb. 7 Feb. 1889, no. 4. Menurut apa yang dikisahkan oleh paman Djajadiningrat, maka Minah, meskipun sudah luka-luka di banyak bagian tubuhnya, masih dapat sampai di Serang, lihat A. Djajadiningrat (1936), hal. 41. Mengingat akuratnya data-data lain di dalam surat resmi tersebut di atas, dan bukti-bukti yang diberikan oleh informan-informan lainnya, di antaranya Raden Saca dan Minah sendiri, maka rekonstruksi yang pertama tentang peristiwa itu lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan yang kedua.

[10] Orang yang dicurigai itu, Kamid, adalah orang yang lama dengan yang disebut-sebut di bawah catatan no. 9, yakni suami Minah; lihat Laporan DDI, hal.19.

[11] Gardu tersebut berdiri di persilangan antara jalan raya pos dari Anyer ke Serang dan jalan dari Balagendung ke Bojonegoro; sebuah gambar mengenai gardu itu dapat dilihat dalam A. Djajadiningrat (1936), menghadap halaman 113; lihat juga gambar peta Cilegon.

[12] Mengenai Lurah Jasim, lihat PV 15 Jan. 1889, dalam Exh. 6 Mater 1889, no. 85.

[13] IWR, No. 1336 (1889), hal.18.

[14] Ibidem.

[15] Ibidem.

[16] Ibidem.

[17] Ibidem; lihat juga A. Djajadiningrat (1936), hal. 42 - 43.

[18] IWR, No. 1336 (1889), hal.19.

[19] Lihat El, IV (1934), hal. 25; lihat juga komentar Snouck Hurgtonje mengenai syahadat, dalam VG, Vol. IV, bagian I (1924), hal. 11-16.

[20] Mary Bachet berusia sekitar 16 tahun, dan Anna Canter Visscher sekitar 13; lihat A. D]ajadiningrat (1936), hal. 44.

[21] IWR, No. 1336 (1889), hal. 20; lihat juga Laporan DDI, hal. 49.

[22] Lihat De Locomotief, 18-20 dan 23 Juli 1888; laporan tentang peranan Asisten Wedana agak disangsikan, baik data-data maupun interpretasinya sesungguhnya tidak tepat. la adalah bekas asisten wedana Merak, bukan Banjarnegara (sic).

[23] Edisi-edisi berikutnya dari surat-kabar itu membantah interpretasi tersebut, lihat De Locomotief, 21 dan 23 Juli;10 Ag., l Okt. 1888.

[24] Informasi mengenai siapa yang akan menjadi raja simpang siur; H. Wasid sering kali disebut-sebut, lihat IWR, No. 1336 (1889), hal. 20; juga IWR No. 1337 (1889), hal. 22 Kiyai Haji Tubagus Ismail disebut-sebut dalam Laporan Direktur Departemen Dalam Negeri, lihat Laporan DDI, hal. 9; Agus Swadikaria dalam Laporan DDI, hal. 69.

[25] Laporan DDI, hal. 39 - 40; juga IWR, No. 1336 (1889), hal. 19. Sejak semula sudah diputuskan bahwa wanita dan anak-anak tidak akan diganggu. Rupa-rupanya, dalam perkembangan selanjutnya kaum pemberontak tingkat bawahan tidak dapat dikendalikan lagi, maka dari itu terjadi serangan terhadap wanita dan anak-anak.

[26] Bandingkan kesaksian Kamad dengan kesaksian Mohamad Said, lihat IWR, No. 1336 (1889), hal. 19. Apakah Nyai Kamsidah bersalah telah membunuh istri Gubbels atau tidak menjadi satu persoalan besar; lihat Surat resmi dari Gubernur Jenderal kepada Menteri Urusan Jajahan, 15 Juni 1889, dalam Vb. 22 JuG 1889, no. 87;lihat juga artikel dalam Bataviaasch Handelsblad, 14 Juni 1889.

[27] Sumber-sumber yang ada tidak memberikan petunjuk mengenai nasib anak perempuan Ajun Kolektor.

[28] Lihat PV 3 Jan. 1889; juga PV 23 Jan. 1889, dalam Exh. 11 Feb. 1889, no. 77.

[29] Lihat PV 3 Jan. 1889; Tahanan yang dibebaskan seluruhnya berjumlah 20 orang, lihat Laporan DDI, hal. 36.

[30] IWR, No. 1336 (1889), hal. 20; Laporan DDI, hal. 49.

[31] Menutut kesaksian Usup dari Jombang Wetan, H. Wasid telah mengatakan bahwa semua orang yang hidup dari gaji pemerintah harus dibunuh, lihat Appendix VIII.

[32] Karena suasana menjadi gaduh disebabkan oleh kedatangan istri Dumas, lihat IWR, No. 1336 (1889), hal. 20.

[33] IWR, No. 1336 (1889), hal. 19 - 20; Shat juga PV 23 dan 1889 dan PV 30Jan.1889, dalam Exh.19 Maret 1889, no. 53.

[34] Laporan DDI, hal. 43 - 44; IWR, No. 1337 (1889), hal. 21.

[35] Kesaksian-kesaksian lain menyebut-nyebut K.H.T. Ismail sebagai calon raja dan H. Wasid sebagai patihnya, lihat Appendix VIII.

[36] Ibidem.

[37] Surat dari Wedana kepada Gubbels hilang sebelum diadakan penyelidikan, lihat Laporan DDI, hal. 54.

[38] IWR, No. 1336 (1889), hal. 20;juga Laporan DDI, hal. 53.

[39] Laporan DDI, hal. 59.

[40] PV 30 Jan. 1889.

[41] Istri Dumas baru ditangkap ketika ia ditemukan sedang bersembunyi di sebuah kamar di Kepatihan, dan tidak - sebagaimana diceritakan oleh paman Djajadiningrat - ketika ia sedang melarikan diri dari rumahnya tidak lama setelah terjadi serangan di malam hari itu, lihat A. Djajadiningrat (1936), hal. 41; cf. IWR, No. 1336 (1889), hal. 18 dan Laporan DDI, hal. 61.

[42] Menurut kesaksian Mary Bachet sendiri, lihat IWR, No. 1336 (1889), hal. 20; lihat juga A. Djajadiningrat (1936), hal. 43.

[43] Seorang anak tali-api bertugas memberi api kepada orang-orang yang merokok dalam jamuan. Lihat Laporan DDI, hal. 69.

[44] Laporan DDI, hal. 69-72; menurut laporan itu, juga bebetapa arsip desa telah dibakat.

[45] IWR, No. 1336 (1889), hal. 18.

[46] Mengenai seluruh "petualangan" Raden Penna, lihatIWR, No. 1337 (1889), hal. 21, dan Laporan DDI, hal. 69 - 72.

[47] Laporan DDI, hal. 70; lihat IWR, No. 1337 (1889), hal. 22; PV 30 Jan 1889 dan juga PV 26 Maret 1889, dalam Exh.14 Mei 1889, no. 121.

[48] PV 30 Jan. 1889; PV 26 Maret 1889.

[49] PV 15 Jan. 1889, dalam Exh. 6 Maret 1889, no. 85; Laporan DDI, hal. 70.

[50] PV 30 Jan. 1889;IG (1891), no. 2, hal.1180.

[51] PV 3 Jan. 1889; PV 23 Jan. 1889; PV 30 Jan. 1889; PV 26 Maiet 1889.

[52] Surat resmi dari Residen Banten, 2 Mei 1889, no. 124, dalam Exh. 24 Juni 1889, no. ?6; mengenai H. Abubakat, lihat Surat resmi dari Residen Banten, 3 Apr. 1889, no. 96, dalam Exh. 20 Mei 1889, no. 76.

[53] Surat resmi dari Residen Banten, 2 Mei 1889, no. 124.

[54] Ibidem.

[55] PV 18 Maret 1889, dalam Exh. 2 Mei 1889, no. 63.

[56] PV 23 Sept. 1889, dalam Exh. 23 Nov. 1889, no. 65.

[57] Surat resmi dari Residen Banten, 3 Apr. 1889, no. 96.

[58] IG (1891), no, 2, hal. 1184; mengenai kegiatan-kegiatan persiapan di Trumbu, Bendung, Kaujon, Kaloran, Lihat PV 18 Maret 1889; PV 3 Juni 1889, dalam Exh. 24 Juli 1889, no. 77; juga Surat resmi dari Residen Banten,2 Mei1889,no.124.

[59] PV 18 Maret 1889.

[60] Satu-satunya pasukan pemberontak dari luar daerah tersebut adalah pasukan di bawah pimpinan H. Muhidin dari Cipeucang, sebuah desa di Kabupaten Pandeglang; tidak ada tanda-tanda kegiatan pemberontakan di bagian timur Kabupaten Serang. Kenyataan itu mungkin ada kaitannya dengan kebetangkatan H. Marjuki tidak lama sebelum pemberontakan dimulai; lihat di atas, Bab VI hal. 253. Mengenai Pandeglang. Penduduk di sana mengikuti jejak H. Sahib yang kelihatan merasa segan untuk ikut dalam pemberontakan; lihat Snouck Hurgronje dalam Gobee dan Adriaanse Vol. 111 (1965), hal.1966.

[61] IG (1891), no. 2, hal. 1164; laporan Ditektut Departemen Dalam Negeri hanya menyebutkan sejumlah orang; lihat Laporan DDI, hal. 11

[62] IB (1891), no. 2, hal.1167.

[63] PV 23 Sept. 1889.

[64] Surat resmi dari Residen Banten, 2 Mei 1889, no. 124.

[65] Laporan DDI, hal. 52.

[66] Laporan DDI, hal. 77.

[67] IG (1891), no.2, hal. 1176

[68] Umpamanya Samad dan Agung, yang menerangkan bahwa mereka dipaksa oleh Lurah Kasar untuk ikut dalam pemberontakan, lihat PV 3 Jan. 1889.

[69] Yang disebut pertama adalah nama baru untuk Medang Batu, yang sudah sangat terkenal sebagai pusat gerakan-gerakan pemberontakan; banyak keturunan H. Wakhia dari pemberontakan tahun 1850 ikut dalam pemberontakan tahun 1888, umpamanya kedua anaknya yang perempuan, Nyi Aminah dan Nyi Rainah; anaknya yang laki-laki, Mesir; menantunya, Sakib, dan cucunya Abdurrakhman, anak Nyi Rainah. Lihat catatan dalam PV 26 Maret 1889.

[70] Beberapa contoh : Kamud dari Beji, Nuri)a dari Citangkil, Jasim dari Dukuhmalang; lihat PV 15 Jan. 1889; jaro.jaro dari Masjid, Priyaji, dan Kusambi Saba; lihat PV 18 Maret 1889; Saleh dari Trumbu, Chat PV 23 Sept. 1889.

[71] Mas Mohamad Kasim, seorang bekas juru tulis jaksa, ikut dalam pembunuhan terhadap Gubbels, menutut kesaksian istri Dumas; dalam sidang-sidang pengadilan berikutnya ia menyangkal kesaksiannya sendiri; lihat PV 2Jan.1889.

[72] Lim Kim Soei dari Serang, yang kebetulan sedang berada di Bojonegoro diganggu dan rambutnya dipotong; lihat PV 15 Jan. 1889. Menurut kesaksian Tan Keng Hok, toko-toko Cina di pasar telah diranjah, lihat IWR, No. 1336 (1889), hal 18. Juga ada laporan yang menyatakan bahwa orang-orang Cina dipaksa untuk masuk Islam lihat A. Djajadiningrat (1936), hal.42.

[73] Namanya adalah Syekh Said bin Salim Madshi, dan ia datang dari Batavia; lihat Laporan DDI, hal. 68.

[74] Dari uang di kantor Ajun Kolektor, sekurang-kurangnya f 734,34 dan dari uang Kepala Penjualan Garam, F?35,35: IihatIWR, No. 1337 (1889), hal. 22. Kerugian yang diderita istri Dumas ditaksir berharga sekitar f. 1.400, kerugian istri Ajun Kolektor sekitar f 2.500 : lihat IWR, No.1336  (1889), hal.18; No' 1447 (1889), hal. 21.

[75] Sepucuk pistol telah dicuri ketika sedang dilancarkan serangan terhadap rumah Asisten Wedana Mancak; lihat PV 23 Jan. 1889. Kasus mengenai kaus kaki sutra kepunyaan Patih yang ditemukan di rumah Kamidin tidak dapat dibuktikan secara meyakinkan; lihat PV 3 Jan. 1889.

[76] Uang itu dibagi-bagikan di antata kaum pemberontak sebelum mereka berangkat menuju Serang, lihat Lapotan DDI, hal. 60.

[77] IWR, No. 1336 (1889) Hal. 18. Pelbagai peristiwa kejahatan yang terjadi selama pemberontakan mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa di antara kaum pemberontak terdapat perampok, penjudi dan penjahat-penjahat lain, lihat A. Djajadiningtat (1936), hal 42.

Disarikan dari buku : PEMBERONTAKAN PETANI DI BANTEN 1888. Oleh Sartono Kartodirdjo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perang Gudang Batu

Perang Gudang Batu Pertama Baiklah, sebelum kita ikuti peristiwa bersejarah berikutnya yang melahirkan tokoh utama dalam buku ini. Ada baikn...